Untuk menggambarkan ramainya penjualan pada masa tersebut, ia memperkirakan tumpukan koran yang dijualnya dalam sehari bisa mencapai lebih dari satu meter. Penghasilannya pun pernah mencapai sekitar Rp500.000 sehari, berdasarkan perkiraan dari ingatannya.
Di tengah perjalanan sebagai penjual koran, Pak Zul sempat mencoba pekerjaan lain, seperti bekerja di proyek dan bertani. Namun, ia akhirnya kembali menekuni profesi yang telah dijalaninya sejak muda.
“Saking menikmati pekerjaan menjual koran, tawaran jadi pegawai saja ditolak saking jayanya ketika masa itu,” ujarnya.
Kini, penghasilan dari berjualan koran digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama Buk Ida. Ketiga anak mereka telah berkeluarga, dan Pak Zul kini juga telah memiliki cucu.
Meski pembeli semakin sedikit, ia tetap menjalankan rutinitas yang telah dijalaninya selama puluhan tahun, mulai dari mengambil koran sejak dini hari, mengantarkan pesanan pelanggan, hingga menjual sisa koran di lapak Simpang Haru.
Selain koran harian, Pak Zul juga menyediakan majalah Bobo dan buku teka-teki silang untuk pelanggan yang masih mencarinya.
Bagi Pak Zul, berjualan koran bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Profesi itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak muda, yang terus ia jalani meskipun kebiasaan masyarakat dalam mengakses berita telah banyak berubah.




















