Harga koran baru yang dijualnya berkisar Rp4.000 hingga Rp5.000 per eksemplar. Sementara itu, koran untuk keperluan tugas kliping pelajar terkadang dijual seharga Rp3.000 per eksemplar.
Jumlah koran yang terjual setiap hari bergantung pada pesanan pelanggan dan pembeli yang datang langsung. Ketika pesanan sedang banyak, koran lebih cepat habis. Sebaliknya, pada hari-hari tertentu, sebagian koran tidak terjual.
Selain berkurangnya pembeli eceran, Pak Zul juga melihat perubahan kebiasaan pelanggan berlangganan. Ia beberapa kali mendapati koran edisi sebelumnya masih berada di tempat ketika mengantarkan edisi terbaru pada hari berikutnya.
Menurut pengalamannya, ada instansi yang tetap berlangganan karena telah mengalokasikan anggaran untuk koran, meskipun koran yang dikirimkan belum tentu dibaca.
Ia menyebutkan, biaya berlangganan koran lokal sekitar Rp150.000 per bulan. Sementara itu, biaya berlangganan koran nasional seperti Kompas mencapai sekitar Rp350.000 per bulan. Menurutnya, harga yang lebih tinggi membuat koran nasional semakin jarang dibeli, sedangkan peminat koran lokal juga tidak seramai dahulu.
Mengenang Masa Kejayaan Penjualan Koran
Kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan ketika Pak Zul mulai menekuni profesinya pada dekade 1980-an. Saat itu, penjualan koran menjadi bagian dari kesehariannya yang ramai dengan pesanan dan pelanggan dari berbagai kalangan.
Ia tidak hanya menunggu pembeli di lapak, tetapi juga mengantarkan koran ke sejumlah instansi pemerintahan, perguruan tinggi, sekolah, badan usaha milik negara (BUMN), hingga pelanggan perorangan.
Pak Zul masih mengingat bagaimana masyarakat pada masa itu aktif mencari koran untuk mengetahui perkembangan berita. Bahkan, sejumlah pelanggan tidak segan memprotes apabila koran edisi terbaru terlambat tersedia.




















