“Yang jelas, niat kami memang berangkat dari obsesi untuk menjadikan STIKes Indonesia sebagai universitas. Hal itu juga sejalan dengan dorongan dari pemerintah agar perguruan tinggi terus mengembangkan diri,” katanya.
Budhi menegaskan, setiap penambahan program studi didasarkan pada kajian akademik yang matang. STIKes Indonesia, kata dia, melakukan analisis terhadap program studi yang memiliki peluang berkembang di masa depan.
“Kami melakukan analisis terhadap program studi apa saja yang memungkinkan untuk dikembangkan dan ditambahkan. Pembukaan program studi tentu tidak asal, tetapi berdasarkan prospek ke depan,” ujarnya.
Membaca Minat dan Masa Depan Lulusan
Dalam proses kajian tersebut, STIKes Indonesia menetapkan dua indikator utama sebagai dasar pengambilan keputusan, yakni minat calon mahasiswa dan prospek lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kami melihat dua hal utama, yakni minat calon mahasiswa dan perspektif lulusan setelah tamat. Dari analisis itu, salah satu yang kami nilai memiliki prospek baik adalah Program Studi S1 Informatika Medis,” jelas Budhi.
Ia juga menyoroti dinamika pendidikan tinggi saat ini, di mana tidak sedikit perguruan tinggi menghadapi penurunan jumlah mahasiswa.
“Saat ini, bukan hanya perguruan tinggi swasta, perguruan tinggi negeri pun ada yang kekurangan mahasiswa hingga harus menutup program studinya,” ungkapnya.
Namun, kondisi tersebut tidak dialami STIKes Indonesia. Budhi menyebut, hingga kini minat calon mahasiswa terhadap STIKes Indonesia masih terjaga.
“Alhamdulillah, STIKes Indonesia sampai hari ini tidak mengalami hal tersebut. Kami selalu memiliki peminat. Salah satunya karena kami membuka program studi yang peluangnya memang masih sangat terbuka,” katanya.
Informatika Medis dan Kebutuhan Layanan Kesehatan
Budhi Mulyadi menilai, Informatika Medis menjadi salah satu bidang yang relevan dengan perkembangan layanan kesehatan modern.
Menurutnya, rumah sakit, klinik, dan puskesmas kini semakin bergantung pada sistem teknologi informasi dalam operasional dan pelayanan.
“Peluang kerja Informatika Medis itu sangat besar. Kebutuhan rumah sakit, klinik, dan puskesmas saat ini semakin mengarah ke bidang informatika medis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Informatika Medis tidak hanya berkaitan dengan pencatatan rekam medis. Bidang ini memiliki cakupan yang lebih luas, mencakup pengelolaan sistem informasi rumah sakit, basis data, teknologi informasi kesehatan, hingga pemanfaatan media digital dalam layanan kesehatan.
“Bukan hanya sekadar rekam medis. Informatika Medis itu cakupannya lebih luas. Di dalamnya termasuk pengelolaan sistem informasi rumah sakit, database, teknologi informasi kesehatan, hingga pemanfaatan media digital yang berkaitan dengan pelayanan rumah sakit,” kata Budhi.
Regulasi di sektor kesehatan juga turut mendorong meningkatnya kebutuhan tenaga di bidang ini.
“Sekarang BPJS Kesehatan mewajibkan rumah sakit yang mengajukan klaim untuk terintegrasi dengan sistem teknologi informasi. Itu yang membuat tingkat kebutuhan tenaga informatika medis semakin tinggi,” jelasnya.
Cakupan Lebih Luas Dibanding Rekam Medis
Menanggapi keberadaan program sejenis di perguruan tinggi lain, Budhi menjelaskan bahwa selama ini program yang lebih banyak tersedia adalah Rekam Medis.
Menurutnya, Rekam Medis memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan Informatika Medis.
“Rekam Medis itu belum ke arah informatika. Informatika Medis cakupannya lebih luas dibandingkan Rekam Medis,” pungkas Budhi.
















