Jeli mengaku aktivitas mengumpulkan lidi sawit tersebut cukup membantu perekonomian keluarganya.
“Pekerjaan itu menjadi salah satu cara untuk memperoleh tambahan pemasukan dari bahan yang sebelumnya dibuang,” ujarnya.
Sementara itu, Dia (34), ibu rumah tangga yang turut menggeluti pekerjaan tersebut, mengaku dapat mengumpulkan sekitar 5 kilogram sehari.
“Dalam sehari bisa 5 kilogram. Kerjanya hanya duduk,” ungkapnya.
Aktivitas pengumpulan tersebut menjadi bagian dari rantai usaha yang dilanjutkan pengrajin, Rio. Ia menyebut, dirinya telah mengembangkan pemanfaatan lidi sawit selama sekitar satu tahun.
Lidi tersebut diolah menjadi berbagai kerajinan tangan yang mana produk itu digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan seperti pesta dan pernikahan.
“Produknya berupa piring yang digunakan saat acara-acara pesta pernikahan, keranjang buah banyak dan produk lainnya,” katanya.
Rio mengatakan gagasan tersebut muncul karena banyak bahan baku yang sebelumnya tidak termanfaatkan, termasuk pelepah dari tanaman sawit yang sudah tidak berbuah lagi.
“Dari kelapa sawit yang sudah tidak berbuah saya berinisiatif mengolahnya menjadi produk yang punya nilai ekonomis. Produk dari lidi sawit ini telah dipasarkan hingga ke luar provinsi,” ujarnya.















