Ia mengatakan bahwa uang tersebut diminta oleh seorang pria yang mengaku sebagai mamak kampung. Menurut K, pria itu meminta pembangunan dapurnya dihentikan jika uang adat belum dibayarkan.
“Bapak tersebut awalnya melintas di depan rumahnya. Tidak lama kemudian, dia kembali, berdiri di depan pintu, lalu memanggil saya untuk keluar rumah,” tuturnya kepada Sumbarkita, Senin (26/10/2026).
Ia melanjutkan, pria tersebut menyebut apabila tidak membayar uang adat yang diminta, proses pembangunan dapur rumah akan didatangi preman atau peralatan-peralatan pembangunan hilang.
“Saat sempat mempertanyakan dasar permintaan uang adat itu dan memintanya menunjukkan surat atau dokumen yang menjadi landasannya. Namun, pria tersebut tidak menjawab pertanyaan mengenai dokumen itu, justru bersikeras bahwa setiap proyek pembangunan di kompleks tersebut harus membayar uang adat karena dirinya merupakan orang yang dituakan dan mamak di kampung itu,” tuturnya.


















