Kabarminang — Masyarakat Pariaman kembali melaksanakan prosesi Maambiak atau manabang Batang Pisang (menebang batang pisang) dalam rangkaian Pesona Hoyak Tabuik Pariaman 2026, pada Sabtu (20/6) sore. Kegiatan ini merupakan rangkaian kedua dari sebelum menuju puncak perayaan 10 Muharam mendatang.
Tuo Tabuik, Zulbahri, mengatakan Maambiak Batang Pisang merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan selalu menjadi bagian dari rangkaian ritual Tabuik di Pariaman.
“Batang pisang yang diambil nantinya digunakan dalam proses pembuatan dan perakitan bagian-bagian Tabuik. Prosesi ini sudah menjadi tradisi yang dijalankan setiap tahun dalam rangkaian Tabuik,” katanya kepada Sumbarkita, Sabtu (20/6).
Ia mengatakan, setelah batang pisang diambil, batang tersebut kemudian dibawa ke rumah tabuik untuk digunakan sesuai kebutuhan dalam proses pembuatan tabuik.
“Rangkaian Tabuik tidak berdiri sendiri-sendiri. Mulai dari Maambiak Tanah, Maambiak Batang Pisang, hingga prosesi berikutnya merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan telah menjadi tradisi masyarakat Pariaman selama lebih dari satu abad,” katanya.
Ia melanjutkan, setiap prosesi Tabuik melibatkan generasi muda untuk menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
“Anak-anak tabuik ikut terlibat dalam setiap kegiatan agar mereka mengetahui dan memahami tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu. Dengan begitu, tradisi ini bisa terus dilestarikan,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh pemuda Pariaman Rafkiman mengatakan seluruh prosesi yang dijalankan masyarakat tetap berpedoman pada tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Kami berusaha menjaga agar setiap tahapan tetap dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan kebiasaan yang diwariskan oleh para pendahulu,” ujarnya.
















