Kabarminang – Fenomena sinkhole atau tanah ambles yang muncul sejak 4 Januari 2026 di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi Nagari Situjua Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, masih menunjukkan aktivitas pergerakan tanah. Kondisi ini membuat aparat gabungan meningkatkan kewaspadaan di sekitar lokasi demi mencegah jatuhnya korban.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota memastikan pergerakan tanah hingga kini belum berhenti. Karena itu, garis polisi telah dipasang mengelilingi area sinkhole untuk membatasi aktivitas warga.
“Hingga saat ini pergerakan tanah masih terus terjadi dan hal ini telah kami antisipasi dengan memasang garis polisi di sekitar lokasi sinkhole,” ujar Komandan Regu Tim Reaksi Cepat BPBD Limapuluh Kota, Alexandra, Selasa (6/1/2026), dalam keterangan tertulisnya.
Berdasarkan pendataan awal BPBD, kata Alex, lubang ambles tersebut memiliki dimensi yang cukup mengkhawatirkan. Sinkhole itu tercatat sepanjang sekitar 10 meter, dengan lebar tujuh meter dan kedalaman mencapai 5,7 meter namun hingga hari ini kedalam terus bertambah, lebih kurang 20 meter.
Alexandra menyebutkan, potensi bahaya masih terbuka lebar apabila pergerakan tanah berlanjut. Tidak menutup kemungkinan lubang tersebut dapat melebar dan membahayakan warga yang beraktivitas di sekitar lokasi.
“Pemasangan garis polisi ini untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Kami tidak ingin ada warga yang mendekat dan berisiko terperosok jika lubang semakin membesar,” katanya.
Selain BPBD, pihak kepolisian juga turun langsung melakukan pengamanan. Kapolsek Situjuah Limo Nagari, Iptu Hendra, mengatakan jajarannya menjaga perimeter lokasi sinkhole secara ketat.
“Kami melakukan pengamanan dan pengawasan di sekitar lokasi agar masyarakat tidak berduyun-duyun mendekati lubang tersebut. Keselamatan warga adalah prioritas utama,” ujar Iptu Hendra.
Ia menambahkan, polisi secara aktif mengingatkan warga yang melintas atau berkerumun agar menjauh dari garis polisi yang telah dipasang. Menurutnya, rasa penasaran masyarakat justru bisa memicu risiko baru apabila tidak dikendalikan.














