Kabarminang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah Sumatera Barat terus menjadi perhatian serius. Dua kabupaten, yaitu Lima Puluh Kota dan Solok, telah menetapkan status tanggap darurat, sementara Pemerintah Provinsi Sumatera Barat masih berada dalam posisi status siaga.
Juru Bicara BPBD Sumbar, Ilham Wahhab, menyampaikan hal itu usai rapat koordinasi penanganan karhutla di kantor BPBD Sumbar, Senin sore (21/7/2025).
“Untuk saat ini, Pemprov Sumbar belum menetapkan status tanggap darurat. Kita masih dalam status siaga sambil menunggu hasil rapat evaluasi darurat,” jelas Ilham kepada Sumbarkita.
Kabupaten Lima Puluh Kota menetapkan status tanggap darurat sejak Jumat (18/7/2025), disusul oleh Kabupaten Solok pada Senin (21/7) untuk 14 hari kedepan. Di Kabupaten Solok, karhutla dilaporkan terjadi di 14 kecamatan, sementara di Lima Puluh Kota tersebar di 10 kecamatan dari total 13 kecamatan.
Pasokan Air dan Bantuan Tim Diperkuat
Untuk memperkuat penanganan di lapangan, BPBD Sumbar akan mengirimkan mobil tangki air ke Kabupaten Lima Puluh Kota. Ilham menyebutkan, awalnya hanya satu unit yang akan dikirim, namun tidak menutup kemungkinan ditambah sesuai kebutuhan.
“Kita juga telah dibantu oleh dua tim Manggala Agni dari Provinsi Jambi. Satu ditugaskan di Solok dan satu lagi di Lima Puluh Kota,” ungkapnya.
BPBD Sumbar saat ini juga telah menyiapkan dokumen permohonan bantuan helikopter water bombing ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang helikopternya telah siaga di Palembang.
“Kita masih menunggu perkembangan eskalasi karhutla. Bila diperlukan, helikopter akan segera kita minta dikerahkan,” tambah Ilham.
Kebakaran Meluas, 66 Kasus Karhutla Terjadi Sejak Januari
Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin, menyebutkan bahwa sejak Januari hingga pertengahan Juli 2025, tercatat 66 kasus karhutla terjadi di Sumbar, dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 201 hektare.
















