Kendala utama di lapangan adalah angin kencang, akses sulit ke lokasi, dan keterbatasan sumber air. Kekeringan yang berkepanjangan membuat jarak pasokan air cukup jauh dari titik api.
Langkah Lanjutan dan Koordinasi Lintas Instansi
Sebagai tindak lanjut, Rahmadinol mengatakan bahwa tim akan terus melakukan pemadaman dan pemutusan jalur penyebaran api. Pengajuan bantuan logistik dan alat berat juga disiapkan untuk diajukan ke BNPB.
BPBD juga menjalin koordinasi dengan BMKG untuk memantau pergerakan awan dan arah angin sebagai pertimbangan penggunaan water bombing.
“Kami juga meminta UPTD KPHL Sumbar untuk segera melakukan kajian dan pemetaan luas dampak. Data dari nagari-nagari terdampak juga harus dikompilasi dengan baik,” tegasnya.
Sementara itu, Ferdinal menyebut bahwa Dinas Kehutanan telah memantau sekitar 1.700 titik panas (hotspot) sejak awal tahun.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena saat ini kondisi lahan sangat kering dan mudah terbakar.
“Kami minta seluruh pihak bersinergi maksimal agar penanganan karhutla ini bisa segera dituntaskan,” pungkas Rahmadinol.
















