“Dari total 66 kejadian, sebanyak 22 terjadi hanya dalam bulan Juli ini. Proses pemadaman masih berlangsung di sejumlah titik, jadi angka luasannya bisa bertambah,” ujar Ferdinal.
Salah satu kebakaran terluas terjadi di Nagari Tarantang, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, yang dilaporkan menghanguskan sekitar 100 hektare lahan.
Karhutla juga dilaporkan terjadi di Pesisir Selatan, Tanah Datar, Agam, dan Pasaman, meskipun skalanya masih tergolong kecil.
Menurut Ferdinal, sebagian besar kebakaran tidak terjadi di kawasan hutan, tetapi di Areal Penggunaan Lain (APL), yakni lahan non-hutan seperti perkebunan dan ladang masyarakat.
“Sekitar 85 persen dari kebakaran berada di APL. Penyebab utamanya adalah kelalaian manusia, terutama dalam pembukaan lahan oleh petani atau perusahaan,” tegasnya.
Lima Puluh Kota Masih Dilanda Asap Tebal
Di Kabupaten Lima Puluh Kota, bencana karhutla terus berlanjut hingga hari keempat, Minggu (20/7/2025). Kepala Pelaksana BPBD setempat, Rahmadinol, menyampaikan bahwa tim gabungan masih bekerja keras melakukan pemadaman dan pendataan dampak bencana.
“BPBD bersama TNI, Polri, Damkar, Satpol PP, dan berbagai unsur lainnya telah dikerahkan sejak awal. Kami juga dibantu oleh relawan dan masyarakat setempat,” ujarnya.
Tim gabungan juga terdiri dari unsur Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, UPT KPHL Sumbar, PT ATC Pangkalan, PMI, dan dua unit Manggala Agni dari Jambi.
Enam kecamatan masih menjadi titik api aktif, yaitu Harau, Suliki, Mungka, Akabiluru, Payakumbuh, dan Pangkalan Koto Baru.
“Dampak yang ditimbulkan antara lain polusi udara, kerusakan hutan, gangguan kesehatan, serta kerusakan lahan sekitar 120 hektare,” sebutnya.
















