“Kadang-kadang sedih melihat teman-teman yang lain pulang kuliah bisa pergi main, jalan-jalan, nongkrong sedangkan saya harus bekerja untuk bertahan hidup,” ucap Rizki.
Untuk mengurangi rasa sedih tersebut, Rizki memilih menyenyapkan unggahan teman-temannya di Instagram dan WhatsApp.
Keputusan bekerja juga berkaitan dengan kondisi keluarganya. Rizki merupakan anak kelima dari lima bersaudara. Kakak-kakaknya telah berkeluarga, sedangkan kedua orang tuanya masih berada di kampung, Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh.
Rizki mengatakan bahwa ayahnya yang berusia sekitar 58-59 tahun tidak lagi bekerja untuk mendapatkan penghasilan utama. Aktivitas ayahnya lebih banyak untuk mengisi waktu dan memenuhi kebutuhan kecil sehari-hari.
Sementara itu, kebutuhan pendidikan Rizki terbantu melalui Beasiswa Adzkia Unggul dari kampus. Beasiswa tersebut membebaskan biaya UKT hingga semester 8.
Meski demikian, Rizki harus memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya selama berada di Padang.
“Membiayai diri sendiri alhamdulillah berpandai-pandai. Dibilang terpenuhi alhamdulillah. Ada saja rezeki di tempat lain,” kata Rizki.
Ketika lelah atau muncul keinginan untuk berhenti bekerja, Rizki biasanya bercerita kepada teman yang lebih tua daripadanya. Dari sana ia mendapat motivasi untuk kembali menjalani aktivitasnya.



















