Ia juga menjelaskan bahwa orang tua tidak menerima pemberitahuan melalui grup mengenai perubahan waktu kepulangan menjadi pukul 16.00 WIB karena informasi tersebut disampaikan langsung kepada siswa.
Sekolah tetap bantu keluarga
Meskipun peristiwa tersebut terjadi setelah jam sekolah dan di luar lingkungan sekolah, kata Rendi, pihaknya tetap membantu keluarga Josua sejak proses pencarian hingga pengurusan administrasi jenazah di RSUP M. Djamil Padang. Saat proses pengurusan jenazah, pihak rumah sakit menyampaikan adanya biaya rumah sakit dan peti jenazah yang harus dibayarkan.
“Perkiraan kalau tidak salah tadi itu total biayanya Rp9 juta lebih,” tutur Rendi.
Melihat besarnya biaya tersebut, pihaknya kemudian menawarkan bantuan karena pihak keluarga disebut tidak mampu menanggung biaya tersebut. Sekolah juga meminta bantuan biaya kepada yayasan, tetapi bantuan tersebut tidak dapat langsung dicairkan pada hari itu. Rendi menyebut bahwa kondisi tersebut sempat menimbulkan kendala dan kesalahpahaman antara pihak keluarga, kepala sekolah, dan rumah sakit terkait proses pemulangan jenazah.
Setelah beberapa waktu, keluarga datang dan membayar biaya rumah sakit. Sementara itu, yayasan membantu pembayaran peti jenazah.
Penjelasan soal peti jenazah
Rendi juga menjelaskan penggunaan peti berukuran besar untuk jenazah Josua. Menurutnya, penjelasan mengenai penggunaan peti tersebut diperoleh dari pihak rumah sakit.
Berdasarkan penjelasan rumah sakit, kondisi jenazah disebut tidak memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam peti berukuran kecil.
Rendi menegaskan bahwa pihak sekolah tetap membantu keluarga Josua sejak proses pencarian hingga pengurusan administrasi jenazah di RSUP M. Djamil Padang dan kepulangan jenazah ke rumah duka di Seberang Palinggam, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang.
















