Meski demikian, tekanan inflasi pada Juni sedikit tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras yang mencatat deflasi masing-masing sebesar minus 0,10 persen dan minus 0,03 persen.
Di tingkat daerah, Kabupaten Pasaman Barat dan Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi tahunan tertinggi di Sumbar, masing-masing sebesar 5,99 persen.
Hasanudin menjelaskan tingginya inflasi di Pasaman Barat dipicu lonjakan harga cabai merah yang mencapai 11,76 persen. Menurutnya, harga cabai di wilayah tersebut sangat dipengaruhi pasokan harian dan distribusi dari daerah pemasok seperti Sumatra Utara, Solok, serta produksi lokal.
Sementara itu, Dharmasraya mencatat tekanan inflasi yang lebih merata sepanjang tahun. Daerah tersebut juga menjadi wilayah dengan inflasi tahun kalender tertinggi di Sumbar, yakni sebesar 2,57 persen.
Berbeda dengan dua wilayah tersebut, Kota Padang mencatat inflasi tahunan terendah di Sumbar sebesar 4,19 persen. Stabilitas harga di ibu kota provinsi itu dinilai dipengaruhi pengelolaan distribusi dan pasar yang lebih baik.
Adapun Kota Bukittinggi menjadi daerah dengan inflasi bulanan terendah sebesar 0,35 persen sekaligus inflasi tahun kalender terendah sebesar 0,89 persen.
BPS mengimbau pemerintah daerah memperkuat pengawasan terhadap harga pangan strategis dan distribusi barang agar laju inflasi tetap terkendali dan tidak membebani daya beli masyarakat pada bulan-bulan berikutnya.
















