Kabarminang – Rekonstruksi kasus pembunuhan berantai disertai mutilasi dengan tersangka Satria Juwanda alias Wanda (25) digelar di Batang Anai, Padang Pariaman pada Rabu (3/9). Salah satu korban dalam kasus ini adalah Siska Oktavia Rusdi atau yang akrab disapa Cika (23).
Menjelang rekonstruksi, pihak keluarga korban memastikan akan mengikuti seluruh proses hukum dengan tenang, meski masih diselimuti duka mendalam.
“Kami tidak ada niat untuk berbuat anarkis. Sejak awal sudah saya sampaikan kepada keluarga, biarlah polisi bekerja sesuai tugasnya. Yang penting rekonstruksi berjalan lancar,” ujar Yeni Murni (44), bibi korban, saat ditemui di rumah keluarga di Korong Kampung Apar, Nagari Sungai Buluh Utara, Kecamatan Batang Anai.
Yeni tak menampik, rekonstruksi akan menjadi momen berat karena keluarga kemungkinan besar akan berhadapan langsung dengan Wanda. Namun ia berusaha tetap kuat.
“Trauma pasti ada, tapi saya minta kekuatan kepada Allah. Hati saya bertanya-tanya, apa salah ponakan saya sampai tega dihabisi seperti itu,” tuturnya dengan suara bergetar.
Menurut Yeni, Wanda selama ini dikenal baik oleh keluarga karena menjalin hubungan asmara dengan Cika.
“Sikapnya tidak pernah mencurigakan. Itu sebabnya kami merasa benar-benar tertipu,” katanya.
Duka keluarga makin dalam karena peristiwa ini berdampak pada orang tua Cika yang meninggal dunia akibat depresi dan syok berat.
“Secara tidak langsung bukan hanya tiga, tapi lima nyawa yang hilang. Kami ingin pelaku dihukum setimpal, nyawa dibayar nyawa,” tegas Yeni.
Keluarga memastikan hadir pada rekonstruksi yang digelar kepolisian. “Dari keluarga inti ada dua orang, ditambah beberapa sepupu,” sebutnya.
Yeni juga mengungkapkan kekecewaannya karena belum ada itikad baik dari pihak keluarga pelaku untuk meminta maaf. Namun, ia tetap berharap proses hukum berjalan cepat dan tidak berlarut.
















