Kondisi tersebut, katanya, pernah terlihat ketika ruas Jalan Lembah Anai terputus akibat bencana alam. Terputusnya ruas tersebut berdampak langsung terhadap konektivitas Padang–Bukittinggi.
Karena itu, pembangunan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi sepanjang sekitar 40,01 kilometer dinilai memiliki fungsi strategis sebagai bentuk redundansi jaringan atau rute pengganti ketika koridor utama mengalami gangguan.
“Jalan tol hadir bukan untuk mematikan jalan nasional eksisting, melainkan membagi fungsi pergerakan kendaraan secara logis dan terintegrasi,” jelasnya.
Ia menjelaskan, jalan tol nantinya dapat melayani kendaraan jarak jauh yang membutuhkan efisiensi waktu. Sementara jalan nasional tetap berperan melayani aktivitas lokal dan pergerakan antardaerah terdekat.
Selain pembangunan infrastruktur, Timtim juga mendorong pemanfaatan teknologi GIS untuk menyusun peta risiko koridor (risk corridor map). Peta tersebut dinilai penting untuk mengintegrasikan berbagai variabel teknis jalan dengan data aktivitas masyarakat.
Data yang dapat dimasukkan antara lain elevasi, tingkat kemiringan jalan, volume kendaraan berat, riwayat kecelakaan, hingga ketersediaan jalur alternatif.
Timtim menilai penanganan Panyalaian perlu dilakukan melalui dua lapis pendekatan. Lapisan pertama berfokus pada perbaikan keselamatan di koridor yang sudah ada.
Langkah tersebut mencakup audit keselamatan jalan, pengawasan kelaikan kendaraan berat, pengendalian kecepatan, pemenuhan perlengkapan jalan, serta pembangunan escape ramp.


















