Kabarminang – Kecelakaan beruntun yang kembali terjadi di kawasan Panyalaian, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, dinilai menunjukkan persoalan yang lebih besar dari sekadar titik rawan kecelakaan atau black spot.
Pengamat Kebencanaan dan Tata Ruang Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, menilai kawasan tersebut perlu dipandang sebagai titik kerentanan jaringan transportasi (network vulnerability) karena memiliki riwayat kecelakaan berulang serta karakteristik jalan yang berisiko tinggi.
Terbaru, kecelakaan beruntun terjadi pada Minggu (4/10/2026) di Jalan Raya Bukittinggi-Padang Panjang, Jorong Kayu Gadang, Nagari Panyalaian. Sebuah Isuzu Pick Up Traga yang diduga mengalami rem blong menabrak enam kendaraan lain yang berada di depannya. Kecelakaan tersebut melibatkan total tujuh kendaraan dan tidak menimbulkan korban jiwa.
Menurut Timtim, kejadian tersebut merupakan sinyal berulang yang semestinya menjadi perhatian serius dalam penataan keselamatan transportasi di jalur nasional Padang Panjang–Bukittinggi.
“Kecelakaan beruntun pada Minggu malam yang melibatkan tujuh kendaraan akibat kegagalan rem adalah sinyal berulang yang tidak boleh diabaikan begitu saja,” ujar Timtim kepada Sumbarkita, Senin (5/10/2026).
Ia mengingatkan, Panyalaian memiliki riwayat kecelakaan serius. Pada 26 Januari 2026, kecelakaan yang melibatkan kendaraan berat di kawasan tersebut mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka-luka.
Praktisi Geographic Information System (GIS) itu mengatakan, persoalan Panyalaian tidak cukup dijelaskan hanya dengan faktor rem blong. Karakteristik geometrik jalan pada koridor Padang Panjang–Bukittinggi turut menentukan tingkat risiko dan dampak ketika terjadi kegagalan kendaraan.
“Isuzu Pick Up Traga yang diduga mengalami rem blong dan menabrak enam kendaraan lain di depannya, meski beruntung tidak menelan korban jiwa,” kata Timtim.


















