Keluarga juga mengungkapkan adanya sejumlah kejanggalan di lokasi kejadian. Mereka mengaku mendapati kondisi kamar mes dalam keadaan berantakan saat pertama kali datang ke lokasi.
Namun, ketika polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) lanjutan, kondisi kamar disebut sudah dalam keadaan rapi.
“Saat keluarga pertama kali masuk, kamar sangat berantakan seperti bekas perkelahian dan korban terbaring tanpa bantal. Namun saat polisi melakukan olah TKP lanjutan, kondisi kamar dilaporkan sudah rapi,” kata Rodi.
Keluarga turut mempertanyakan pemeriksaan awal petugas kesehatan yang, menurut mereka, mengarah pada dugaan korban meninggal akibat henti jantung dan napas yang dipicu pembekapan. Meski demikian, penyebab pasti kematian Ingga masih menunggu hasil pemeriksaan otopsi dan laboratorium forensik.
Keluarga juga menyoroti keterangan salah seorang penghuni kamar mes berinisial W yang merupakan anggota kepolisian. Menurut Rodi, terdapat sejumlah hal dalam keterangan W yang perlu didalami penyidik.
“Kesaksian W sangat janggal. Ia mengaku keluar mes jam dua dini hari lalu masuk kembali. Ia bersama dua rekannya juga yang pertama mengabarkan korban pingsan kepada keluarga, padahal korban diduga sudah meninggal beberapa jam sebelumnya,” ujarnya.
Dengan telah keluarnya hasil otopsi, keluarga berharap temuan medis tersebut dapat segera dijelaskan secara transparan untuk mengungkap penyebab kematian Ingga Pratama Putra, guru SDN 13 Sungai Pinang Tarusan.















