Aksi teatrikal itu berlangsung di tengah penjagaan aparat kepolisian. Sejumlah personel terlihat berjaga di gerbang masuk, depan Gedung DPRD Sumbar, dan tepi jalan.
Di halaman gedung DPRD, terlihat sekitar 10 bus polisi yang membawa personel untuk mengamankan jalannya aksi. Namun, hingga sore hari, peserta aksi yang direncanakan hadir untuk menyampaikan aspirasi belum terlihat berkumpul dalam jumlah yang diperkirakan.
Rencana aksi tersebut sebelumnya diumumkan melalui akun Instagram Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas (BEM FH Unand). Dalam unggahan itu, peserta dijadwalkan berkumpul di Gazebo F Universitas Andalas pada pukul 15.00 WIB dengan ketentuan mengenakan pakaian berwarna hitam.
Unggahan tersebut juga mengajak masyarakat, anak-anak, serta orang-orang yang terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) untuk mengikuti aksi.
Dalam narasi yang diunggah, penyelenggara menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat, termasuk hilangnya habitat satwa serta penurunan kualitas udara akibat kabut asap.
“Hewan-hewan kehilangan habitatnya, manusia kehilangan ruang hidup, asap terbang ke seluruh penjuru, memenuhi udara yang setiap hari dihirup,” demikian narasi dalam unggahan tersebut.
Penyelenggara juga mengkritik sikap yang dianggap meminta masyarakat terbiasa dengan kondisi kabut asap.
“Karhutla bukan sekadar api, ini tentang ruang hidup, ini tentang keselamatan, ini tentang tanggung jawab negara,” tulis penyelenggara dalam unggahan tersebut.



















