Kabarminang – Wakil Presiden RI ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (JK), angkat bicara terkait gelombang aksi demonstrasi yang terjadi di berbagai kota besar Indonesia sejak Kamis (28/8). Aksi yang dipicu oleh pernyataan kontroversial sejumlah anggota DPR RI itu telah memakan korban jiwa, termasuk seorang pengemudi ojek online yang tewas dilindas mobil Brimob.
JK berharap tragedi ini menjadi tamparan keras bagi para anggota DPR agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertutur, terutama dalam menanggapi aspirasi masyarakat.
“Tentunya bagi para pejabat, para anggota DPR untuk menahan diri. Menjadi pelajaran yang besar ini. Jangan bicara asal dan jangan menghina masyarakat juga. Ini semua yang menjadi penyebab masalah,” ujar JK dalam keterangan pada Jumat (29/8).
Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi ricuh setelah beberapa oknum anggota DPR secara terbuka mengolok-olok respons masyarakat terhadap kebijakan kontroversial yang tengah dibahas di parlemen. Bukannya meminta maaf, mereka justru memancing kemarahan publik.
JK mengingatkan bahwa pejabat publik seharusnya menjadi contoh dalam menjaga ketenangan sosial, bukan justru memperkeruh suasana.
“DPR dan pemerintah harus bekerja sama menjaga kondisi bangsa. Dengarkan aspirasi masyarakat dengan bijak dan sesuai aturan,” tambahnya.
Tak hanya mengimbau DPR, JK juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing provokasi. Ia menekankan bahwa kekacauan hanya akan berdampak negatif terhadap kehidupan ekonomi dan sosial.
“Jika kota bergejolak seperti ini, maka kehidupan ekonomi akan berhenti. Ini bisa berakibat panjang,” ucapnya. “Kita tentu memahami perasaan para pengemudi ojol yang temannya meninggal. Tapi apabila kota terus ribut, pekerjaan akan terganggu, pendapatan berkurang, dan kehidupan mereka juga akan terdampak.”
JK menutup pernyataannya dengan harapan agar situasi segera kembali kondusif dan semua pihak bisa menahan diri demi kepentingan bersama.