Kabarminang — Kondisi jembatan bailey atau jembatan darurat di Simpang Bukik, Nagari Bukik Batabuah, Kabupaten Agam, mulai memprihatinkan. Hampir setahun setelah dibangun pascabanjir bandang, jembatan tersebut mulai rusak.
Pantauan Kabarminang.com, Sabtu (5/4), lantai papan jembatan mulai rapuh. Beberapa bagian papan terangkat saat dilewati kendaraan berbobot besar.
Jembatan dengan struktur rangka baja dan lantai papan tersebut selesai dibangun pada 22 Mei 2024, tak lama setelah jembatan lama tersapu galodo pada 11 Mei 2024. Jembatan bailey itu berada di jalur alternatif yang menghubungkan Padang, Payakumbuh, dan Batusangkar.
Selama hampir setahun terakhir, jalan di kawasan tersebut diberlakukan sistem buka-tutup. Sementara itu, sejumlah pemuda setempat bergiliran mengatur arus lalu lintas, terutama pada jam-jam sibuk dan saat akhir pekan.
Pada momentum arus mudik dan balik Lebaran 2025, jembatan itu menjadi salah satu titik kemacetan akibat tingginya volume kendaraan.
“Kami kesulitan melewati jembatan tersebut sekarang karena sudah mulai rapuh,” kata Hardiansyah, pengendara roda dua yang melewati jalan tersebut.
Ia berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen
“Jembatan ini seharusnya segera mendapat perhatian mengingat perannya yang vital dalam menunjang mobilitas warga dan distribusi logistik antar daerah,” ucapnya.
Wali Nagari Bukik Batabuah, Firdaus, mengatakan bahwa kondisi jembatan darurat itu sangat memprihatinkan karena lantainya mulai berlubang dan kayunya rapuh. Ia menyebut kondisi itu membahayakan pengguna jalan.
Firdaus menuturkan bahwa masyarakat dan pemerintah nagari hingga kini masih mempertanyakan janji Gubernur Sumbar, Mahyeldi, untuk membangun jembatan permanen. Ia mengingatkan bahwa Mahyeldi pernah berjanji langsung di atas jembatan itu kepada warga untuk membangun jembatan permanen.
“Waktu galodo tahun lalu, Gubernur Mahyeldi menjanjikan jembatan permanen akan selesai pada Februari 2025. Sekarang sudah April, tapi belum ada kejelasan,” kata Firdaus.
Selain itu, kata Firdaus sering terjadi kecelakaan di lokasi tersebut, baik di atas jembatan maupun di ruas jalan menuju lokasi. Ia mengatakan bahwa jalan yang bergelombang dan berlubang dari arah Lasi kerap memicu kecelakaan, terutama pada malam hari atau saat hujan.
“Korban sudah tak terhitung. Kami sudah sampaikan kepada Dinas Perhubungan, tapi hanya diberi rambu jalan. Itu belum cukup,” ujarnya.
Firdaus berharap Pemkab Agam maupun Pemprov Sumbar segera mencari solusi dan mempercepat pembangunan jembatan permanen sesuai dengan janji yang pernah disampaikan.
“Kami hanya ingin kepastian. Jalan ini penting bukan hanya bagi warga sini, melainkan juga bagi pengguna jalan antarkota,” tuturnya.