Kabarminang — Detak jantungnya tak berdetak sempurna sejak ia lahir. Namun, di balik tubuh mungil yang terbaring di ruang NICU RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh, Azladinanca Romeesa Farzana terus berjuang seolah-olah menolak menyerah pada usianya yang baru enam bulan.
Farzana didiagnosis jantung bocor, penyakit yang kini memaksanya menjalani perawatan intensif sejak 12 Januari 2026. Tiga hari sudah ia berada di ruang NICU, ruang sunyi yang hanya dipenuhi bunyi alat medis dan doa orang tua yang tak putus-putus.
Di balik kaca pembatas, Cahya Karmila (21) hanya bisa memandangi putri kecilnya. Tangannya sering terangkat, menempel di dada sendiri, seolah-olah ingin memastikan jantung Farzana tetap berdetak.
“Setiap malam saya takut tidur, takut bangun dan dengar kabar buruk. Dia anak kami, masih bayi, belum sempat merasakan apa-apa,” ucap Cahya kepada Kabarminang.com pada Minggu (18/1/2026).
Farzana merupakan anak kedua Cahya dan suaminya, Nanda Apriansyah (23). Mereka tinggal di Lubuak Jorong Limpato, Nagari Tarantang, Kecamatan Harau, Limapuluh Kota. Rumah kayu sederhana menjadi saksi keseharian keluarga kecil itu hidup pas-pasan, bergantung pada pekerjaan serabutan sang ayah.
Saat Farzana harus dirawat di rumah sakit, keluarga ini tidak hanya menghadapi kenyataan medis, tetapi juga persoalan ekonomi. BPJS Kesehatan yang mereka miliki sempat menunggak, membuat Nanda dan Cahya diliputi kecemasan akan kelanjutan pengobatan.
“Saya bingung harus bagaimana. Uang tidak ada. Kerja pun harus ditinggalkan. Tapi, yang kami pikirkan cuma satu: anak kami harus ditolong,” kata Nanda.
BPJS baru kembali aktif pada 15 Januari 2026 setelah diurus bersama oleh pihak keluarga dan nagari. Meski demikian, beban keluarga belum sepenuhnya terangkat. Biaya hidup selama menjaga anak di rumah sakit dan kebutuhan pendampingan tetap menjadi persoalan.
















