“Komoditas bahan pangan seperti cabai merah, beras, dan minyak goreng masih menjadi penyumbang andil terbesar terhadap inflasi tahunan di daerah ini,” katanya.
Secara rinci, cabai merah memberikan andil inflasi tahunan sebesar 0,51 persen, disusul beras sebesar 0,24 persen dan minyak goreng sebesar 0,15 persen.
Meski demikian, terdapat sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi bulanan melalui deflasi. Di antaranya adalah bawang merah dan telur ayam ras yang mengalami penurunan harga.
Selain sektor pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi secara tahunan, yakni sebesar 9,73 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang utama dengan andil inflasi sebesar 0,42 persen.
Kelompok transportasi juga mengalami kenaikan sebesar 5,33 persen secara tahunan. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian harga bensin, kenaikan tarif angkutan udara, serta biaya perawatan kendaraan.
Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi sebesar 3,77 persen. Kenaikan harga pada menu olahan seperti nasi lauk, ayam goreng, dan gulai menjadi faktor pendorong utama.
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, Hasanudin menekankan pentingnya menjaga kelancaran distribusi komoditas utama agar inflasi di Sumatera Barat tetap terkendali.
















