Suaminya, Anton (54), kini bekerja sebagai penarik becak motor di Pasar Belimbing. Dalam sehari, pendapatan yang dibawa pulang hanya berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu.

Penghasilan itu menjadi satu-satunya pemasukan keluarga sejak sawah tidak lagi menghasilkan.
“Sekarang paling penghasilan cuma dari suami. Susah mencukupi kebutuhan dapur,” katanya.
Di usianya yang tidak lagi muda, Yurnalis mengaku sudah tidak sanggup mencari pekerjaan berat untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Rumah Masih Penuh Lumpur
Kesulitan yang dihadapi keluarga itu tidak berhenti di sawah.
Rumah sederhana yang mereka tempati hingga kini masih dipenuhi endapan lumpur atau yang oleh warga setempat disebut cirik aia. Mesin pompa air rusak diterjang banjir sehingga ia hanya bisa membersihkan lumpur menggunakan sekop dan piring plastik.

Kondisi rumah pun jauh dari layak. Lantainya masih berupa cor semen tanpa keramik, plafon belum terpasang, sedangkan dinding yang beberapa kali diterjang banjir kini berubah menguning.
Untuk mandi dan mengambil air minum, Yurnalis bahkan harus berjalan menuju mata air di atas bukit karena sumber air di sekitar rumah masih tercemar akibat banjir.
Kesedihan perempuan itu juga bertambah setelah kesehatannya menurun sejak galodo pertama melanda kawasan tersebut. Ia mengaku mengalami gangguan paru-paru dan telah menjalani pengobatan selama enam bulan.
Saat banjir kembali datang awal pekan ini, Yurnalis masih berada di dalam rumah. Arus air menghantam pintu sebelum akhirnya masuk dan memenuhi seluruh ruangan.
“Air sangat kuat. Tingginya sampai hanya kepala saya yang masih terlihat,” kenangnya.
Kini ia hanya menyimpan satu harapan, yakni agar pemerintah kembali membantu memulihkan lahan pertanian warga melalui pembersihan material banjir, perbaikan sawah, serta bantuan benih dan modal tanam.
“Kalau sawah ini tidak ada lagi, saya tidak tahu harus bagaimana. Kami hanya berharap bisa bertani lagi,” ujarnya.
Nasib Yurnalis bukanlah kisah tunggal. Banjir yang melanda Kota Padang awal pekan ini kembali merusak sekitar 15 hektare lahan pertanian di kawasan Lapau Munggu yang sebelumnya telah direhabilitasi pascagalodo pada akhir November 2025. Bagi banyak petani, banjir kali ini bukan hanya menghanyutkan sawah, tetapi juga mengubur harapan untuk kembali memulai kehidupan.















