Kabarminang – Kabar duka menyelimuti keluarga dan kerabat Beni Afriadi (20), warga Jorong Sikabu, Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar. Pasien yang sebelumnya dirawat koma di ruang ICU RS Mutiara Aini, Batu Aji, Batam, itu dikabarkan meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju kampung halamannya.
Informasi tersebut disampaikan oleh Roni, anggota Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Batu Aji sekaligus Generasi Muda Pariaman (Gempar) Kepulauan Riau, yang sejak awal mendampingi proses pemulangan pasien dari rumah sakit.
“Almarhum meninggal dunia sekitar jam 21.40 WIB saat ambulans sudah berada di atas kapal menuju Pelabuhan Buton. Setelah itu, jenazah tetap dibawa ke kampung halaman sesuai rencana awal, namun kali ini untuk dimakamkan,” ujar Roni kepada Sumbarkita, Rabu (31/12/2025).
Roni menjelaskan, selama proses pemulangan, kondisi Beni berada dalam pengawasan ketat dan pendampingan, mengingat pasien masih dalam keadaan koma sejak dirawat di rumah sakit. Pemulangan dilakukan atas dasar kemanusiaan dan solidaritas sesama perantau terhadap keluarga almarhum.
Diberitakan sebelumnya, Beni Afriadi merupakan warga Jorong Sikabu, Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, Tanah Datar. Ayah almarhum, Yuliardi, menuturkan bahwa anak bungsunya itu merantau ke Batam pada 2024 untuk bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Pada Juni 2025, Beni bekerja sebagai buruh lepas di sebuah galangan kapal.
Pada awal Desember 2025, kondisi kesehatan Beni menurun drastis hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Berdasarkan hasil diagnosis medis, Beni mengalami paru-paru basah yang telah memengaruhi bagian kepala, sehingga kondisinya tergolong serius. Tak lama berselang, Beni mengalami koma dan dirawat secara intensif di ruang ICU Rumah Sakit Mutiara Aini.
Kabar sakitnya Beni sempat membuat keluarga di kampung halaman terpukul. Keterbatasan ekonomi membuat kedua orang tuanya, Yuliardi dan Fitira, tidak langsung dapat menyusul ke Batam. Namun berkat uluran tangan warga serta solidaritas sesama perantau, keduanya akhirnya dapat berangkat dan mendampingi anaknya di rumah sakit.
“Waktu saya lihat anak saya di ICU, rasanya dunia runtuh. Dia cuma terbaring, tidak sadar sama sekali,” ujar Yuliardi dengan suara lirih.














