Kabarminng – Seorang nelayan berinisial JK (23), warga Taluak Ujuang Batu, Nagari Taluak Tigo Sakato, Kecamatan Batang Kapas, Pesisir Selatan, diduga menyetubuhi siswi SMA berinisial TR (17), warga Lubuk Kumpai, Kecamatan Bayang, Jumat (17/1) dini hari. Akibat perbuatan itu, JK dilaporkan oleh orang tua TR ke polres.
Kepala Satuan Reskrim Polres Pesisir Selatan, AKP Yogie Biantoro, mengatakan bahwa JK dan TR bukanlah sepasang kekasih. Ia menyebut bahwa keduanya baru kenal.
Yogie kemudian menceritakan kronologi terjadinya dugaan persetubuhan itu. JK menemui TR di Masjid Nurul Yakin Lubuk Kumpai pada Kamis (16/1) sekitar pukul 21.00 WIB. JK merayu TR untuk pergi dengannya, sampai akhirnya TR mau. Kemudian, JK membawa TR dengan sepeda motornya ke Taluak Ujuang Batu. Keduanya berhenti di sebuah rumah kosong pada Jumat (17/7) sekitar pukul 00.20 WIB.
JK kemudian membawa TR masuk ke dapur rumah itu, lalu meminta TR untuk membuka celana. TR menjawab tidak mau. Namun, JK membujuk TR dengan berkata, “Kalau kamu mau bersetubuh dengan saya, saya akan memberikan uang untuk kamu Rp500 ribu.”
“JK memaksa membuka celana TR, tetapi TR menyingkirkan tangan JK. Tetapi, JK tetap menyetubuhi TR. Setelah menyetubuhi TR dua menit, JK mengajak TR untuk bersetubuh lagi, tetapi TR menolak. TR kemudian minta diantar pulang,” tutur Yogie kepada Kabarminang.com pada Selasa (8/7).
Setelah keduanya tiba di jembatan Lubuk Kumpai, kata Yogie, JK menurunkan TR. Saat itu, katanya, JK melihat ada pemuda yang memergokinya menurunkan TR, kemudian ia kabur.
“Pemuda yang melihat JK menurunkan TR tersebut kemudian melapor kepada orang tua TR. TR mengaku kepada orang tuanya bahwa ia disetubuhi satu kali oleh JK. Orang tua TR, ibu dan ayahnya, kemudian melaporkan JK ke Polres Pesisir Selatan pada 17 Januari 2025,” ujar Yogie.
Pada Senin (7/7) pukul 23.00 WIB, kata Yogie, pihaknya menangkap JK di Bukit Teratak, Taluak Ujuang Batu, atas dugaan menyetubuhi anak di bawah umur. Pihaknya menangkap JK berdasarkan bukti permulaan yang cukup, yang menguatkan dugaan persetubuhan anak di bawah umur sebagaimana yang dimaksud Pasal 76D juncto Pasal 82 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Selain menangkap JK, pihaknya menyita barang bukti dan mencari saksi serta mencatat keterangan saksi.
Pihaknya sudah menetapkan JK sebagai tersangka dan menahannya di sel polres. Ia menyebut bahwa atas perbuatan itu, JK terancam hukuman 5 tahun hingga 15 tahun.