Kabarminang — Seorang warga Kampung Koto Rawang, Nagari Koto Rawang, Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan, ditemukan tewas tergantung di pohon di tepi sungai pada Selasa (1/7) pada 6.30 WIB.
Wakil Kepala Polsek IV Jurai, Ipda Budi Setiawan, mengatakan bahwa korban bernama Kasman Dedi (50). Ia menceritakan bahwa pada Selasa subuh Kasman Dedi mengatakan kepada anaknya, Dina Puspita Sari, untuk pergi buang air besar di sungai di belakang rumahnya. Setelah satu setengah jam, kata Budi, pria tersebut belum pulang.
“Karena papanya belum pulang, anaknya yang bernama Nia Daniati (39) mencari papanya ke sungai karena khawatir dengan ayahnya sebab ayahnya sakit asam lambung dan sering mengeluh akhir akhir ini. Di sungai anaknya melihat ayahnya tergantung di pohon dalu-dalu,” ujar Budi.
Setelah itu, kata Budi, anak korban memberitahukan kejadian itu kepada kakaknya, Datuak Si Un, yang kemudian memberi tahu kakak korban, Suwardi. Lalu, kata Budi, Suwardi langsung pergi ke lokasi kejadian, yang saat itu sudah terdapat banyak warga yang melihat peristiwa tersebut.
Budi menceritakan bahwa Suwardi langsung memanjat pohon tempat korban tergantung untuk membuka tali karena tidak tega melihat kakaknya tergantung. Untuk membuka tali itu, kata Budi, Suwardi dibantu dua orang kemenakannya untuk mengangkat korban dari bawah, lalu mereka membawa korban ke rumah duka.
“Korban buruh pemetik kelapa. Korban diduga mengakhiri hidup karena impitan ekonomi. Korban pernah berkata kepada istrinya bahwa dia ingin mengakhir hidup karena sudah tidak tahan dengan impitan ekonomi,” ucap Budi.
Tetangga Kasman Dedi, Harjumita, mengatakan bahwa Kasman Dedi sehari-hari bekerja bekerja sebagai tukang beruk, yang memetik kelapa dengan beruk. Karena itu, katanya, korban dipanggil Lin alias Malin Beruk. Ia terkejut mendapatkan kabar bahwa Lin gantung diri. Ia tak menyangka Lin mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu sebab sepengetahuannya, Lin orang yang cerita dan tidak ada masalah.
Harjumita menambahkan bahwa Lin tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh delapan orang. Di rumah itu, kata tokoh masyarakat Koto Rawang itu, Lin tinggal dengan istrinya, anak-anaknya, dan cucu-cucunya.