Selain itu, Solok Selatan (20,2%) dan Pasaman Barat (15,3%) juga menunjukkan tren pertumbuhan dua digit yang positif.
Meskipun secara total provinsi mengalami kenaikan, tren penurunan produksi justru terlihat di wilayah perkotaan dan beberapa kabupaten sentra.
Kota Pariaman mencatatkan penurunan proyeksi terdalam sebesar 26,2 persen, disusul Kota Bukittinggi (18,3%) dan Kota Padang (16,8%).
Kabupaten sentra seperti Limapuluh Kota juga diprediksi mengalami penyusutan produksi sebesar 17,5 persen atau berkurang sekitar 23.326 ton dibandingkan tahun 2024.
Penurunan ini dinilai sejalan dengan temuan data ATR/BPN mengenai menyusutnya Luas Baku Sawah (LBS) di wilayah tersebut.
Dinas Pertanian menegaskan, proyeksi positif ini tetap berada di bawah bayang-bayang perubahan iklim ekstrem. Bencana hidrometeorologi, seperti kemarau panjang yang sempat melanda Sijunjung dan Tanah Datar selama lima bulan pada pertengahan 2025, serta banjir di penghujung tahun, menjadi faktor penentu apakah angka prediksi ini dapat tercapai sepenuhnya.
Untuk menjaga tren positif tersebut, Afniwirman menyatakan pemerintah akan terus mendorong pemakaian Saprodi (Sarana Produksi) sesuai anjuran teknologi dan perbaikan infrastruktur irigasi.
“Faktor yang paling memengaruhi produksi adalah iklim, pemakaian teknologi, ketersediaan air, dan pengendalian hama. Kita harus memastikan semua faktor ini terkendali agar target produksi 1,36 juta ton dapat terealisasi,” tutupnya.















