Kabarminang – Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025 telah menimbulkan dampak kemanusiaan besar. Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya sekitar 1.200 orang meninggal dunia dan hilang, dengan kerusakan permukiman mencapai 156 ribu rumah di 52 kabupaten/kota terdampak.
Berdasarkan dashboard resmi BNPB yang diperbarui 8 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia tercatat 950 jiwa, sementara 274 orang dilaporkan hilang. Selain itu, sekitar 5.000 warga mengalami luka-luka akibat bencana.
Dampak bencana tersebut terjadi di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan sebaran korban dan kerusakan yang tidak merata di setiap wilayah.
Di Sumatera Barat, Kabupaten Agam tercatat sebagai wilayah dengan korban meninggal dunia tertinggi, mencapai 179 jiwa. Angka tersebut menempatkan Agam sebagai daerah dengan fatalitas tertinggi secara lintas provinsi dalam peristiwa banjir dan longsor tahun ini.
Sementara itu, dari sisi pengungsian, wilayah Aceh menjadi episentrum. Kabupaten Aceh Utara mencatat jumlah pengungsi terbanyak dengan sekitar 299 ribu jiwa, disusul Aceh Timur sebanyak 262 ribu jiwa, dan Pidie sekitar 238 ribu jiwa.
Tak hanya permukiman warga, kerusakan juga meluas pada fasilitas publik. BNPB mencatat 1.200 rumah ibadah rusak, 534 fasilitas pendidikan, 234 fasilitas kesehatan, 199 gedung dan kantor pemerintahan, serta 435 jembatan mengalami kerusakan dengan tingkat beragam.
Skala dampak tersebut menunjukkan bahwa bencana banjir dan longsor di Sumatera tahun ini bukan sekadar kejadian lokal, melainkan krisis regional dengan konsekuensi jangka panjang terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan pelayanan dasar masyarakat.
BNPB bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus melakukan penanganan darurat, termasuk evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, serta pendataan lanjutan untuk memperkuat langkah rehabilitasi dan rekonstruksi.
















