Nazifah menambahkan, suatu wilayah dapat dikategorikan Kejadian Luar Biasa (KLB) bila lebih dari lima warga terjangkit campak dalam satu kawasan. Di Marunggi, Dinkes telah melakukan penanganan cepat pasca munculnya laporan kasus.
“Petugas puskesmas langsung turun melakukan pemeriksaan dan penyuluhan kepada warga,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes kini gencar memberikan edukasi di sekolah-sekolah. Siswa diberi penjelasan mengenai gejala awal campak dan cacar air, termasuk anjuran beristirahat di rumah bila mengalami demam disertai nyeri mata.
“Anak-anak harus peka. Kalau ada gejala, jangan ke sekolah dulu agar tidak menularkan kepada teman-teman,” tutur Nazifah.
Ia mengingatkan bahwa orang tua memiliki peran besar dalam menjaga kebersihan dan imunitas anak. Kebiasaan seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah berada di luar rumah, serta memberikan makanan bergizi dapat memperkuat pertahanan tubuh.
“Daya tahan tubuh anak masih lemah dibanding orang dewasa, jadi perlu perhatian ekstra,” ujarnya.
Selain edukasi, Dinkes memperkuat koordinasi dengan seluruh puskesmas untuk mempercepat pelaporan kasus dan pemeriksaan spesimen. Langkah ini dilakukan agar penyebaran penyakit dapat diantisipasi sejak awal.
Nazifah menegaskan bahwa penanganan sangat bergantung pada kesadaran masyarakat.
“Segera periksakan diri jika mengalami demam tinggi, ruam, atau keluhan lain yang mengarah pada campak dan cacar air. Deteksi dini sangat penting untuk memutus rantai penularan,” tutupnya.
















