Meski demikian, pengalaman tersebut kembali mengingatkannya pada banjir bandang akhir 2025. Saat itu, kata Franz, ketinggian air mencapai sekitar tiga meter dan akses keluar kawasan terputus. Ia bersama keluarganya terpaksa bertahan semalaman di lantai dua rumah dalam kondisi listrik padam hingga tim SAR datang keesokan harinya.
“Suasananya mencekam. Kami takut dengan keselamatan keluarga,” ujarnya.
Franz berharap ada solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di kawasan tersebut. Menurutnya, pembangunan infrastruktur pengendali aliran sungai menjadi salah satu kebutuhan yang mendesak bagi warga.
“Kalau belum dibangun sabo dam di Batang Kuranji, banjir ini akan terus berulang,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi turut menghadirkan langkah nyata yang dapat mengurangi dampak banjir berulang di kawasan tersebut.
Bagi Ina, banjir kali ini kembali menyisakan pekerjaan panjang. Di rumah yang telah ditinggikan satu meter, lumpur masih menempel di lantai dan dinding. Bersama keluarganya, ia terus membersihkan rumah sambil berharap hujan berikutnya tidak lagi membawa luapan Batang Kuranji masuk ke tempat tinggal mereka.















