“Ini sudah kita tinggikan halamannya satu meter supaya air tidak masuk lagi ke dalam rumah, tetapi tetap masuk,” ujarnya.
Tak hanya rumah Ina, puluhan rumah warga di sekitar kawasan tersebut juga terdampak banjir. Sebagian mengalami kerusakan cukup parah akibat dihantam gelondongan kayu yang terbawa arus. Beberapa warga bahkan telah meninggikan pondasi rumah mereka untuk mengurangi risiko banjir yang terus berulang.
Di RT 03 RW 01, jejak banjir sebelumnya masih terlihat jelas. Lumpur masih mengendap di sejumlah titik, beberapa ruas jalan belum sepenuhnya bersih, dan sejumlah rumah yang rusak akibat banjir bandang akhir 2025 belum diperbaiki. Kebun kelapa milik warga juga masih dipenuhi pasir yang terbawa arus sungai.
Sementara itu, menantu Ina, Franz (25), mengatakan debit air meningkat sangat cepat setelah hujan turun. Menurutnya, hanya sekitar 30 menit sejak air mulai naik hingga akhirnya masuk ke dalam rumah.
Saat kejadian, Franz sedang bekerja di kawasan Pasar Raya Padang. Setelah mendapat kabar dari istrinya bahwa air mulai meninggi, ia segera pulang untuk membantu mengevakuasi keluarga ke lantai dua rumah serta memindahkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih aman.
Menurut Franz, keselamatan dua anak kecil yang berada di rumah menjadi perhatian utama keluarga, termasuk anaknya yang masih berusia dua tahun.
“Air tinggi, sudah bisa berenang kita di dalamnya. Kalau masuk rumah, cuma tangan yang keluar, badan dan kepala tenggelam,” kata Franz.
Ia menyebut banjir mulai surut sekitar pukul 17.00 WIB pada Senin sore sehingga keluarga dapat kembali turun dan mulai membersihkan rumah.















