Kabarminang — Pemerintah Kota Bukittinggi bersama mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait kajian pelestarian dan pengelolaan kawasan perkotaan berbasis warisan budaya. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, di aula balai kota, Selasa (31/3/2026).
Perwakilan ITB, Bagas Dwi Putra, mengatakan, FGD itu merupakan bagian dari kegiatan akademik mahasiswa Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota melalui mata kuliah Studio Tematik.
Ia melanjutkan, pemilihan Kota Bukittinggi sebagai lokasi kajian dinilai relevan karena Bukittinggi memiliki sejarah panjang, termasuk perannya dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Kota Bukittinggi sebagai bagian dari Jaringan Kota Pusaka Indonesia memiliki kekayaan warisan budaya yang kuat, baik fisik maupun nonfisik dari sejarah panjangnya termasuk sebagai pusat PDRI. Namun, modernisasi menuntut pelestarian yang tidak hanya melindungi bangunan, tetapi juga mengelola kawasan dan tradisi secara berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai aspek,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, menekankan bahwa pembangunan kota modern tidak semata-mata dipahami sebagai pembangunan fisik dan ekonomi. Ia menyebut kota juga merupakan ruang sosial dan budaya yang menyimpan identitas serta memori kolektif masyarakat.
“Kota Bukittinggi dengan sejarah berlapisnya memerlukan pengelolaan berbasis pelestarian warisan budaya yang mengintegrasikan aspek fisik, sosial dan ekonomi. FGD ini menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan berbasis data dan menghasilkan rekomendasi strategis yang relevan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Bukittinggi berkomitmen untuk membangun kota yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga identitas daerah sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Upaya tersebut, kata dia, dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk akademisi, masyarakat, dan generasi muda. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.
















