Kabarminang – Kasus ayah yang membunuh pelaku pencabulan anaknya di Padang Pariaman menjadi sorotan publik, setelah sang ayah, ED, warga Nagari Gasan Gadang, Kecamatan Batang Gasan, ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan ini memicu beragam reaksi masyarakat, mulai dari empati hingga kritik, terutama terkait status hukum tindakan ED. Bagaimana tanggapan polisi?
Kapolres Pariaman, AKBP Andrenaldo Ademi menyebut bahwa perkara yang menjerat ED alias Edi adalah pembunuhan berencana, bukan tindakan spontan. Penetapan tersangka ED didasarkan pada alat bukti dan rangkaian peristiwa selama penyidikan
“Kasus ini adalah pembunuhan berencana. Itu berdasarkan alat bukti dan rangkaian peristiwa yang kami temukan dalam proses penyidikan,” tegas Kapolres Pariaman saat merilis kembali kasus ini, Sabtu (14/2/2026).
Dia menjelaskan sesuai fakta penyidikan kasus ini dilatarbelakangi oleh pencabulan terhadap anak di bawah umur.
“Korban masih anak di bawah umur. Perkaranya adalah pencabulan sebagaimana diatur dalam undang-undang perlindungan anak. Kami menangani perkara ini sesuai konstruksi hukum yang berlaku,” jelasnya.
Dia bilang ED dijerat pasal 338 KUHP (pembunuhan) dan Pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana), dengan ancaman pidana penjara seumur hidup atau hukuman mati.
Kapolres menekankan bahwa penyidik bekerja berdasarkan ketentuan KUHP dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tanpa intervensi opini publik maupun tekanan media sosial.
“Ancaman hukuman yang disangkakan bisa berupa pidana seumur hidup atau maksimal hukuman mati. Namun yang berwenang menjatuhkan vonis adalah pengadilan, bukan polisi. Kami hanya memproses sesuai aturan hukum,” tegasnya.
Saat ini, berkas perkara ED masih dalam tahap pelengkapan, termasuk keterangan saksi ahli. Sementara, berkas kasus pencabulan dengan tersangka Noval telah memasuki tahap dua.
“Kami memastikan seluruh proses berjalan profesional, transparan, dan sesuai prosedur,” ujar Kapolres.
“Kami meminta masyarakat bijak menggunakan media sosial. Jangan membuat narasi yang tidak berdasar atau hoaks karena bisa menyesatkan publik dan mengganggu proses hukum,” tambahnya.
Kronologi dan Duduk Perkara Kasus ED
Kasus bermula dari laporan pencabulan terhadap anak perempuan Edi yang diketahui kelahiran 2008. Laporan disampaikan ke polisi pada 23 September 2025. Edi datang bersama sang anak, yang menjadi korban, dan Fikri, yang tak lain adalah suami adik perempuannya.
















