Ia menyebut bahwa pondok dan ladang tempat ayahnya tinggal tidak berada dekat dengan kawasan yang terdampak banjir bandang. Jejak banjir disebut berjarak sekitar 20 meter lebih dari arah menuju pondok.
Meski demikian, Aza belum mengetahui secara pasti posisi ayahnya saat banjir bandang terjadi.
“Kalau ayah saya terbawa arus banjir bandang, berarti ayah saya yang pertama kali diseret arus banjir bandang karena posisinya di atas kompleks dinas pemerintahan Kabupaten Solok,” katanya.
Aza mengeluhkan proses pencarian. Menurutnya, petugas yang berada di sekitar Kantor Bupati Solok lebih banyak melakukan pembersihan di area perkantoran, sementara pencarian korban yang masih hilang dinilainya belum maksimal.
Ia mengatakan bahwa telah menyampaikan permohonan pencarian kepada petugas SAR dan BPBD. Ia juga meminta bantuan kepada Brimob, DPRD, dan Wakil Bupati Solok untuk mendukung pencarian ayahnya.
Permintaan tersebut, kata Aza, mendapat respons dan pihaknya diminta mendata identitas korban serta informasi lain yang berkaitan dengan pencarian. Namun, setelah data diberikan, ia menyebut bahwa pencarian terhadap ayahnya belum dilakukan sesuai harapan keluarga.
“Pencarian hanya dilakukan ala kadarnya saja,” ujarnya.
Aza berharap pencarian tidak hanya dilakukan di sekitar kawasan perkantoran, tetapi juga diperluas ke wilayah ladang dan sekitar aliran sungai.





















