Kabarminang – Warga di tiga nagari di Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, terpaksa mengandalkan rakit darurat sebagai sarana penyeberangan setelah akses utama mereka terputus sejak November 2025.
Putusnya akses tersebut terjadi akibat ambruknya Jembatan Anduriang yang diterjang banjir bandang dan galodo. Hingga kini, jembatan yang menghubungkan Nagari Kayu Tanam, Nagari Anduriang, dan Nagari Guguak itu belum juga dapat difungsikan kembali.
Sebagai solusi sementara, warga menggunakan rakit sederhana berbahan drum untuk menyeberangi sungai. Rakit ini menjadi jalur vital bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga mengangkut hasil pertanian.
Ketua Pemuda Nagari Anduriang, Afrizal, mengatakan rakit tersebut merupakan inisiatif pemuda setempat untuk membantu warga agar tidak perlu memutar jauh.
“Awalnya jembatan ini putus, lalu kami pemuda berinisiatif membuat rakit supaya masyarakat tidak perlu memutar jauh. Ini bisa menghemat waktu dan bahan bakar,” ujarnya.
Ia menyebutkan, penyeberangan dengan rakit dilakukan secara sukarela dengan biaya seikhlasnya. Warga biasanya membayar antara Rp2.000 hingga Rp5.000, bahkan ada yang digratiskan, terutama bagi pelajar.
Meski sangat membantu, penggunaan rakit darurat ini tetap menyimpan risiko keselamatan, terutama saat arus sungai meningkat atau tidak stabil.
Diketahui, sekitar 30 ribu warga terdampak akibat terputusnya akses tersebut. Selain menghambat mobilitas, kondisi ini juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya distribusi hasil pertanian.
Warga berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan agar akses transportasi kembali normal dan aman.















