Menurut Tamrin, kondisi tersebut diperkuat oleh kecenderungan pemilih yang masih mudah terpikat oleh simbolisme, penampilan formalitas, dan narasi-narasi keagamaan.
Tamrin menilai bahwa substansi teknis kebijakan publik kerap berada di urutan kedua dibandingkan dengan kekuatan pesan-pesan moral dan religius di ruang publik. Karena itu, ia berpendapatan bahwa politisi maupun partai yang mampu mengelola dan memainkan sentimen keagamaan secara konsisten diprediksi akan terus memegang kendali elektoral.
”Karena publik masih terpikat oleh simbolisme dan sentimen keagamaan, PKS diprediksi kuat akan tetap mempertahankan basis dominasinya di Sumbar pada 2029,” tutur Tamrin.















