Menurutnya, persoalan lokasi juga perlu menjadi perhatian dalam pembangunan dan penataan terminal di Sumatera Barat. Sejumlah terminal dinilai belum berfungsi optimal karena perencanaan tata ruang dan pemilihan lokasi yang kurang tepat.
Harison menyoroti Terminal Tipe A Anak Air di Koto Tangah, Kota Padang, yang menurutnya sepi karena lokasinya jauh dari pusat aktivitas warga. Ia menilai pemindahan terminal ke kawasan tersebut justru berdampak terhadap aksesibilitas masyarakat dan fungsi simpul transportasi kota.
Selain Terminal Anak Air, Harison juga menyoroti sejumlah fasilitas transportasi dan pasar di Sumatera Barat yang dinilai belum berfungsi optimal, di antaranya Terminal Tipe A Bareh Solok di Kota Solok dan Terminal Tipe B Bukit Surungan di Padang Panjang.
Ia juga menyinggung Pasar Baru Kasang di Korong Kasai, Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman, serta Pasar Amor di Nagari Batu Palano, Kecamatan Sungai Pua, Agam, yang menurutnya belum berkembang secara optimal.
Harison mengatakan bahwa penataan pasar dan terminal seharusnya dilakukan secara terintegrasi dengan mempertimbangkan pola pergerakan masyarakat. Menurutnya, terminal semestinya memiliki keterkaitan yang kuat dengan pusat aktivitas ekonomi agar fungsi transportasi dan perdagangan dapat saling mendukung.
“Terminal seharusnya dibangun sejalan dan berdampingan dengan pasar untuk menampung moda transportasi pembawa orang dan barang, bukan malah tumpang tindih,” tutur Harison.
Karena itu, Harison mendorong Pemko Padang mempertimbangkan kembali konsep pengembangan terminal di pusat kota dengan memanfaatkan kawasan Plaza Andalas. Menurutnya, integrasi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengembalikan fungsi simpul transportasi di pusat Kota Padang.


















