Kabarminang — Fenomena sinkhole atau tanah berlubang muncul di kawasan pertanian di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, pada Minggu (4/1/2026). Hingga kini, Selasa (6/1/2026), luapan air dari fenomena ini masih terjadi.
Ahli Geologi, Ade Edward, menyebut fenomena tersebut tidak berpotensi membentuk telaga atau danau. Berdasarkan peta geologi, kawasan lokasi sinkhole memiliki karakteristik topografi berupa lereng. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah itu berfungsi sebagai jalur aliran air, bukan sebagai cekungan tertutup yang memungkinkan air tertampung dalam jangka panjang.
“Kawasan tersebut merupakan dataran rendah yang dikelilingi perbukitan, sehingga secara alami menjadi lintasan aliran air dari daerah yang lebih tinggi. Karena itu, air yang keluar dari sinkhole cenderung mengalir dan tidak menetap di satu titik,” tuturnya kepada Sumbarkita Senin (5/1/2026) malam.
Air yang muncul dari sinkhole berasal dari aliran air bawah tanah yang berada dalam kondisi bertekanan. Tekanan tersebut mendorong air keluar ke permukaan melalui lubang sinkhole yang terbentuk.
Ia menjelaskan, tekanan aliran air bawah tanah meningkat akibat curah hujan yang berlangsung dalam durasi cukup lama. Kondisi tersebut menyebabkan debit air bawah tanah menjadi tinggi hingga memunculkan fenomena air yang keluar menyerupai sumur artesis.
“Untuk mengantisipasi peningkatan debit air tersebut, pemerintah setempat dapat mengalihkan aliran air dari sinkhole ke saluran irigasi yang berada sekitar 20 hingga 30 meter dari lokasi kejadian,” tuturnya.
Ia mengatakan pengalihan aliran air ke saluran irigasi dilakukan agar air tetap mengalir mengikuti sistem drainase yang tersedia, sehingga mengurangi genangan air di sekitar sinkhole dan potensi gangguan terhadap lingkungan sekitar.
“Dengan kondisi topografi berupa lereng serta pengaliran air menuju saluran irigasi, fenomena air sinkhole tidak berpotensi berkembang menjadi telaga atau danau,” tuturnya.














