Kabarminang – Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat mencatat 615.645 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah tersebut selama periode 1 Januari hingga 25 Oktober 2026. Kota Padang menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang 1–25 Oktober 2026, yakni 8.968 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Sumatra Barat, Aklima, mengatakan tingginya akumulasi kasus ISPA tersebut perlu menjadi perhatian serius. Ia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan upaya pencegahan penyakit pernapasan.
“Akumulasi kasus yang telah melewati angka enam ratus ribu ini menunjukkan bahwa penyebaran ISPA di daerah kita masih memerlukan perhatian serius dan penanganan berkelanjutan dari semua pihak terkait,” ujar Aklima, Senin (26/10/2026).
Meski jumlah kumulatif terus bertambah, Aklima menyebut kasus harian sempat turun 12,7 persen pada 24 Oktober 2026. Pada hari itu, tercatat 1.852 kasus baru dibandingkan hari sebelumnya.
“Penurunan harian ini menjadi indikator positif bahwa intervensi pencegahan mulai membuahkan hasil, meskipun volume kasus harian maupun mingguan secara keseluruhan masih berada pada tingkat yang signifikan,” tambahnya.
Berdasarkan data demografi periode Januari hingga September 2026, dengan total 546.433 kasus, kelompok usia dewasa 25–59 tahun mendominasi jumlah penderita. Kelompok ini mencatat 216.065 kasus atau sekitar 39,54 persen dari total kasus pada periode tersebut.
“Dominasi kelompok usia dewasa ini sangat berkaitan erat dengan mobilitas harian mereka yang tinggi di luar ruangan, sehingga memiliki probabilitas paparan polusi udara dan penularan virus yang lebih besar,” jelas Aklima.
Kelompok rentan juga menyumbang angka yang cukup besar. Warga berusia 60 tahun ke atas tercatat mengalami 102.192 kasus atau 18,65 persen, sedangkan balita berusia 0–4 tahun mencapai 94.516 kasus atau 17,30 persen.


















