Kabarminang – Dosen Program Studi Program Profesi Insinyur Universitas Andalas (Unand), Harison, menyarankan pemerintah meninggikan elevasi jalan nasional Padang–Bukittinggi di kawasan Lembah Anai, Sumatera Barat, untuk mengurangi risiko kerusakan berulang akibat banjir bandang.
Menurut Harison, penanganan jalur utama penghubung Padang dan Bukittinggi itu tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan dinding penahan tanah konvensional. Perlu perencanaan teknis terpadu yang mempertimbangkan kondisi topografi, aliran sungai, dan ketinggian badan jalan.
Harison mengatakan, Jumat (23/10/2026), kerusakan jalan di kawasan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari curah hujan berintensitas tinggi, luapan air terjun, hingga posisi jalan yang terlalu dekat dengan dasar Sungai Batang Anai.
“Peristiwa banjir dan longsor di Lembah Anai ini dipicu curah hujan tinggi serta luapan air terjun. Masalah utamanya adalah posisi elevasi jalan raya yang masih terlalu dekat dengan aliran sungai,” ujar Harison.
Ia menjelaskan, luapan banjir bandang dapat menggerus dinding pembatas sungai dan mengikis struktur penopang jalan. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan badan jalan amblas ke arah aliran Batang Anai.
Harison juga membandingkan ketahanan jalan raya dengan jalur rel kereta api peninggalan zaman dahulu yang berada di kawasan tersebut. Menurut dia, perencanaan elevasi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam penanganan jalan nasional itu.
“Jika kita lihat dari segi struktur, jalur rel kereta api di sana relatif jarang mengalami longsor dibandingkan jalan raya. Hal ini karena perencanaan zaman dahulu sudah memperhitungkan elevasi dan ketinggian aman dari permukaan sungai,” kata Harison.
Berdasarkan kondisi tersebut, ia menyarankan pemerintah merancang ulang konstruksi jalan dengan mempertimbangkan peninggian elevasi badan jalan dan penguatan tebing sungai secara terpadu. Langkah itu dinilai perlu untuk mengurangi risiko kerusakan ketika debit air meningkat.
















