“Solusi untuk Lembah Anai tidak bisa hanya bergantung pada penahan konvensional. Kita memerlukan perencanaan yang lebih matang terkait elevasi jalan dan penguatan dinding tebing sungai agar sejajar dan aman dari terjangan air,” tegasnya.
Selain pembenahan jalur yang sudah ada, Harison menyoroti pembangunan jalan tol sebagai alternatif transportasi dan distribusi logistik regional. Menurut dia, keberadaan jalan tol perlu ditempatkan dalam perencanaan sistem transportasi yang mendukung kelancaran arus barang dan kegiatan ekonomi.
“Pembangunan jalan tol memang dirancang sebagai jalur logistik utama. Namun, kita harus ingat bahwa fungsi utama jalur transportasi adalah mendukung kelancaran ekonomi dan distribusi barang, bukan sekadar menghindari kemacetan jangka pendek,” tambah Harison.
Kerentanan Lembah Anai terhadap bencana tercermin dari sejumlah kejadian sebelumnya. Pada Mei 2024, banjir bandang memutus jalan sepanjang sekitar 200 meter. Banjir ekstrem pada November 2025 juga merusak kawasan Mega Mendung dan Jembatan Kembar.
Meski perbaikan pascabencana telah dilakukan, ancaman longsor masih terjadi. Pada pertengahan 2026, longsoran material batu besar kembali terjadi di kilometer 66+700.
Harison berharap kementerian terkait bersama pemerintah daerah dapat merealisasikan penataan teknis yang terukur. Dengan begitu, jalur nasional Padang–Bukittinggi di kawasan Lembah Anai diharapkan dapat berfungsi lebih aman dan andal dalam jangka panjang.
















