Kabarminang – Jengkol ternyata bukan sekadar pelengkap di meja makan. Pada September 2026, komoditas yang lekat dengan kuliner Sumatera Barat itu justru masuk dalam daftar harga yang mengalami penurunan dan ikut menahan laju inflasi daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat mencatat jengkol termasuk sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga pada September 2026. Penurunan tersebut terjadi di tengah dinamika kenaikan sejumlah bahan pangan yang masih memberikan tekanan terhadap inflasi.
Kepala BPS Provinsi Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, mengatakan terdapat sejumlah komoditas yang justru mengalami deflasi dan memberikan andil negatif terhadap inflasi umum Sumbar.
“Di tengah dinamika kenaikan harga pangan, kita mencatat beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga atau deflasi dan memberikan andil negatif terhadap inflasi umum,” ujar Nurul Hasanudin, Kamis (1/10/2026).
Selain jengkol, BPS mencatat emas perhiasan, tarif angkutan udara, cabai rawit, dan kentang juga mengalami penurunan harga pada September 2026. Di antara komoditas tersebut, emas perhiasan dan tarif angkutan udara memberikan angka andil deflasi yang secara spesifik tercatat dalam data BPS.
Emas perhiasan mengalami deflasi 2,45 persen secara bulanan (mtm). Penurunan harga tersebut memberikan andil deflasi sebesar 0,04 persen terhadap inflasi umum Sumatera Barat.
Sementara itu, tarif angkutan udara turun 4,99 persen secara bulanan dan memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen. Penurunan tarif penerbangan ini turut membantu menahan tekanan harga di Sumbar pada September.
Dengan demikian, cerita inflasi Sumbar pada September bukan hanya tentang komoditas yang harganya naik. Di tengah kenaikan sejumlah harga pangan, terdapat pula komoditas seperti jengkol, emas perhiasan, cabai rawit, kentang, serta tarif angkutan udara yang bergerak turun.





















