Kabarminang – Kecamatan Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh, meluncurkan program SERIBU Asa untuk Anak Stunting dan Ibu Hamil sebagai upaya mempercepat penanganan stunting melalui kolaborasi pemerintah, donatur, dan berbagai pemangku kepentingan.
Skema tersebut menjadi bagian dari upaya Kecamatan Payakumbuh Selatan dalam menerapkan arahan kebijakan Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, mengenai percepatan penurunan stunting melalui pendekatan yang melibatkan lebih banyak unsur masyarakat.
Camat Payakumbuh Selatan, Dewi Mulia, mengatakan, inovasi SERIBU Asa lahir dari pemahaman bahwa persoalan stunting tidak dapat ditangani secara parsial oleh satu sektor saja. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga unsur lainnya secara berkesinambungan.
“SERIBU Asa ini adalah gerakan kolaborasi nyata. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Oleh karena itu, kami merangkul donatur dan stakeholder yang peduli untuk bersama-sama mendampingi anak stunting dan ibu hamil sejak masa kandungan,” katanya.
Ia melanjutkan, persoalan gizi buruk dan stunting membutuhkan intervensi yang berlapis. Penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan kerja satu instansi di tingkat kecamatan maupun kelurahan, tetapi juga membutuhkan pendampingan yang menyentuh langsung keluarga.
Karena itu, pelaksanaan program di Kelurahan Balai Panjang turut melibatkan sejumlah unsur yang berada dekat dengan masyarakat, mulai dari lurah setempat, Penyuluh Keluarga Berencana (KB), hingga Penyuluh Agama Islam dari KUA Payakumbuh Selatan, Firdaus.
Keterlibatan Penyuluh Agama Islam menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan dalam program tersebut. Edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak disampaikan melalui pendekatan sosial dan keagamaan agar pesan mengenai pemenuhan gizi dan kesehatan keluarga lebih mudah diterima masyarakat.
Ia melanjutkan, melalui pendekatan tersebut, keluarga diharapkan tidak hanya memahami pentingnya asupan gizi, tetapi juga melihat kesehatan ibu hamil dan pemenuhan hak gizi anak sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan agama.
Dengan pola pendampingan tersebut, SERIBU Asa diharapkan dapat menjadi gerakan sosial yang terus berkembang dan menjangkau lebih banyak keluarga yang membutuhkan perhatian.
“Kita berharap gerakan SERIBU Asa ini bisa terus bergulir dan memantik kepedulian yang lebih luas di tengah masyarakat. Dengan demikian, pendampingan terhadap anak stunting dan ibu hamil dapat berjalan secara masif, inklusif, dan berkelanjutan,” imbuhnya.






















