Kabarminang – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Barat kini ikut menekan kualitas udara di Kota Padang Panjang. Senin (7/9/2026) sore, kualitas udara di kota berjuluk Serambi Mekkah itu tercatat berada pada kategori tidak sehat.
Berdasarkan pemantauan kualitas udara pada pukul 16.00 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Kota Padang Panjang berada di angka 157. Parameter utama pencemar udara adalah partikel PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 64,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut menunjukkan udara yang dihirup masyarakat Padang Panjang telah mengalami penurunan kualitas yang signifikan. Konsentrasi PM2.5 bahkan tercatat mencapai 12,9 kali nilai panduan tahunan PM2.5 Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.
PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Dalam konsentrasi tinggi, paparan partikel tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia dan kelompok masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap gangguan pernapasan.
Kondisi udara Padang Panjang pada Senin sore juga menunjukkan kabut asap belum sepenuhnya menjauh dari kawasan dataran tinggi Sumatera Barat. Meski secara geografis berada di kawasan pegunungan, Padang Panjang tetap terdampak pergerakan massa udara yang membawa polutan dari kebakaran hutan dan lahan.
Dalam prakiraan kualitas udara harian, kondisi tersebut juga belum sepenuhnya stabil. AQI Padang Panjang tercatat berada di angka 151 pada hari ini, sementara Selasa diperkirakan berada di angka 142 dan Rabu kembali meningkat menjadi 155.
Pada Kamis, indeks kualitas udara diproyeksikan berada di angka 117, kemudian turun menjadi 123 pada Jumat. Namun, kondisi diperkirakan kembali berada pada kategori tidak sehat pada akhir pekan dengan indeks 137 pada Sabtu dan 151 pada Minggu.
Situasi ini membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika harus melakukan aktivitas di luar ruangan. Pemerintah Kota Padang Panjang juga telah mengimbau warga untuk mengambil langkah pencegahan terhadap risiko paparan udara yang kualitasnya menurun akibat kabut asap.
Warga dianjurkan menggunakan masker ketika berada di luar ruangan serta mengurangi aktivitas fisik yang berat di area terbuka. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia dan masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.
Keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, mata perih, sakit kepala hingga sesak napas tidak boleh dianggap sepele apabila muncul saat kondisi kabut asap masih terjadi. Pemerintah daerah meminta masyarakat tidak memaksakan diri beraktivitas di luar rumah apabila kondisi udara mulai mengganggu kesehatan.
Kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Barat sendiri diduga berkaitan dengan dampak kebakaran hutan dan lahan, ditambah pergerakan massa udara yang membawa asap ke wilayah Sumatera Barat. Kondisi serupa juga menyebabkan kualitas udara memburuk di sejumlah daerah lain.
Padang Panjang kini ikut merasakan dampaknya. Langit yang tampak berkabut bukan sekadar persoalan jarak pandang, tetapi menjadi penanda bahwa masyarakat sedang menghadapi udara dengan kandungan partikel pencemar yang telah berada pada level tidak sehat.
















