Kabarminang – Bagi kebanyakan orang, ban pelampung identik dengan permainan di air. Namun, bagi keluarga Yarman (56) dan Asriati (52) di Perumahan Maransi Indah, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, benda itu justru menjadi sarana transportasi darurat untuk membeli makanan ketika banjir memutus seluruh akses menuju ke rumah mereka pada Senin (3/8/2026).
Rumah yang ditempati pasangan suami istri itu berada tepat di tepi aliran sungai yang belum dilengkapi batu beronjong sehingga air mudah meluap ke permukiman. Pada Selasa (4/8/2026) siang, bekas ketinggian air sekitar 1,6 meter masih terlihat di rumah tersebut.
Asriati mengatakan hujan mulai turun setelah waktu zuhur. Tidak lama kemudian, air dari sungai di belakang rumah mulai meluap dan menggenangi permukiman.
“Hujan itu setelah zuhur, air mulai naik. Puncaknya sekitar pukul 16.00 WIB. Air terus tinggi sampai malam dan tidak kunjung surut,” katanya kepada Sumbarkita, Selasa (4/8/2026).
Saat banjir terjadi, Asriati bersama anak, menantu, dan cucunya mengungsi ke lantai dua rumahnya. Ia menyebut air mulai surut pada Selasa (4/8/2026) pagi. Selama bertahan di lantai dua, kata Asriati, keluarganya tidak dapat memasak karena seluruh peralatan dapur terendam banjir.
“Waktu itu kami tidak dapat memasak. Untuk memenuhi kebutuhan makan, anak pergi ke warung menggunakan ban pelampung,” tuturnya.
Asriati mengaku ban pelampung tersebut sudah lama disiapkan sebagai perlengkapan menghadapi banjir.
“Ban itu sudah lama kami siapkan untuk banjir. Dulu juga digunakan untuk mengevakuasi warga. Kadang-kadang menggunakan papan panjang,” katanya.
















