Kabarminang – Peristiwa gempa kembar berkekuatan Magnitudo 7,2 dan Magnitudo 7,5 yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 dinilai menjadi peringatan serius bagi Sumatera Barat untuk segera memperkuat sistem tata ruang berbasis mitigasi bencana.
Praktisi Sistem Informasi Geografis (GIS) Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, menyebut Sumbar memiliki kemiripan historis dengan peristiwa tersebut. Ia mengingatkan bahwa pada 28 Juni 1926, kawasan Padang Panjang pernah mengalami kehancuran akibat dua gempa besar yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari tiga jam.
Menurut Timtim, peristiwa gempa di Venezuela seharusnya menjadi pengingat bahwa ancaman serupa dapat terjadi di wilayah yang memiliki sistem sesar aktif.
“Gempa kembar di Venezuela ini bukan sekadar fenomena jarak jauh, melainkan cerminan dari sejarah kelam Padang Panjang tahun 1926 yang mulai dilupakan masyarakat,” kata Timtim, Jumat (26/6/2026).
Ia menjelaskan, pelepasan energi pada sesar aktif memiliki karakteristik kompleks karena pergeseran pada satu segmen dapat memicu tekanan pada segmen lainnya. Sumatera Barat sendiri berada di jalur Sesar Besar Sumatra yang terdiri dari sejumlah segmen patahan yang saling terhubung.
Timtim menilai pendekatan berbasis analisis spasial GIS perlu segera dioptimalkan dengan mengintegrasikan data sesar aktif, kepadatan penduduk, dan lokasi fasilitas vital guna memetakan risiko secara lebih akurat.
Ia juga menyoroti bahwa besarnya dampak kerusakan dan korban jiwa pada bencana masa lalu kerap dipicu oleh pembangunan yang tidak mempertimbangkan kondisi geologi wilayah. Menurutnya, perluasan permukiman di kawasan berisiko tinggi berpotensi meningkatkan ancaman bencana di masa mendatang.
“Bencana tidak pernah terjadi di ruang kosong. Ketika jalan utama putus akibat longsor dan rumah sakit berada di lokasi yang terisolasi, maka penanganan darurat dipastikan akan lumpuh,” ujarnya.
















