Kabarminang – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Google Finance pada Senin (15/6/2026) siang, kurs dolar AS berada di level Rp17.664,88 per dolar AS.
Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.779 per dolar AS. Dengan demikian, rupiah menguat sekitar Rp114 dalam sehari.
Penguatan tersebut memperpanjang tren positif rupiah setelah beberapa hari lalu sempat mengalami tekanan dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Bahkan jika dibandingkan posisi tertinggi yang sempat mendekati Rp18.180 per dolar AS pada awal pekan lalu, rupiah kini telah menguat lebih dari Rp500 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda mulai mereda setelah sempat dipengaruhi berbagai sentimen global.
Sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah antara lain kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan harga komoditas dunia, kondisi geopolitik internasional, hingga arus modal asing ke negara berkembang.
Bagi Indonesia, penguatan rupiah dapat memberikan dampak positif terhadap biaya impor berbagai kebutuhan industri dan bahan baku. Rupiah yang lebih kuat juga membantu menekan tekanan inflasi yang berasal dari barang impor.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu berbagai sentimen ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan.
Dengan posisi terbaru di level Rp17.664 per dolar AS, rupiah kini semakin menjauh dari level Rp18.000 yang sempat menjadi perhatian pasar pada awal Juni lalu.
















