Kabarminang — Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang menggelar Pelatihan Pelopor Moderasi Beragama dan Ekoteologi 2026 sebagai upaya memperkuat peran dosen dan tenaga kependidikan dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama serta kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Kegiatan itu digelar di Hotel Imam Bonjol sejak 9 hingga 11 Juni 2026 dan diikuti 50 peserta dari berbagai fakultas dan unit kerja di lingkungan kampus.
Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Martin Kustati, saat membuka kegiatan secara daring dari Surabaya, menegaskan pentingnya transformasi diri yang berkelanjutan agar setiap insan kampus mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Martin menilai moderasi beragama tidak cukup dipahami sebagai konsep atau wacana semata. Menurutnya, nilai tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk melalui kepedulian terhadap lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Ia menyebut perhatian terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari spiritualitas dan praktik keagamaan yang utuh.
“Jadilah pelopor yang menebar manfaat dan kebaikan. Kepedulian terhadap lingkungan sosial dan lingkungan hidup harus berjalan seiring dengan penguatan spiritualitas,” ujarnya.
Ketua LP2M UIN Imam Bonjol Padang, Wakidul Kohar, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangun kesadaran sekaligus mendorong aksi nyata di lingkungan perguruan tinggi.
Menurutnya, pelatihan tidak hanya berfokus pada penguatan pemahaman peserta, tetapi juga diharapkan melahirkan gerakan konkret yang dapat diterapkan di lingkungan kampus.
“Pelatihan ini tidak hanya memberi pencerahan, tetapi juga mendorong lahirnya gerakan konkret moderasi beragama dan kepedulian lingkungan di kampus,” katanya.
Peserta pelatihan terdiri atas dosen muda dan tenaga kependidikan dari berbagai fakultas, antara lain Fakultas Syariah, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Adab dan Humaniora, Pascasarjana, serta sejumlah unit pendukung lainnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan sejumlah materi yang mencakup pemetaan kehidupan beragama di Indonesia, analisis sosial menggunakan pendekatan iceberg analysis, penguatan konsep moderasi beragama, hingga strategi implementasi ekoteologi sebagai respons terhadap berbagai persoalan lingkungan.
















