Kabarminang – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat mengungkap dugaan masih adanya dua ekor harimau yang berkeliaran di kawasan Jorong Lima Sumpadang Baru, Nagari Padang Mantinggi, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Kamis (21/5/2026).
Kepala Resort BKSDA Pasaman, Edi Susilo, mengatakan informasi tersebut diperoleh dari laporan warga yang masih melihat keberadaan satwa liar di sekitar area perkebunan.
Menurut Edi, dua harimau yang diduga masih berada di kawasan itu terdiri dari seekor induk dan seekor anak. Keduanya disebut berkeliaran tidak jauh dari lokasi penemuan anak harimau betina yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi terjerat.
Ia menjelaskan, lokasi penemuan harimau terjerat tersebut diduga merupakan habitat satwa liar, sehingga potensi kemunculan harimau di kawasan itu masih cukup tinggi.
“Penampakan harimau di kawasan Pasaman tidak sesering di Agam,” ujarnya kepada Sumbarkita, Jumat (22/5).
BKSDA pun mengimbau masyarakat yang beraktivitas di kebun agar meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta tidak pergi ke kebun sendirian guna menghindari risiko bertemu dengan satwa liar tersebut.
Selain itu, masyarakat juga diminta membatasi waktu beraktivitas di kebun, terutama menjelang sore hingga malam hari.
“Kalau pergi ke kebun cukup sampai jam 4 sore, takutnya nanti mulai sekitar pukul 5 sore sampai malam harimau mulai berkeliaran kembali,” katanya.
Menindaklanjuti laporan warga, BKSDA saat ini melakukan penelusuran jejak yang diduga dilalui harimau di kawasan tersebut.
“Jika sudah ditemukan jejaknya, kemungkinan kita bakal memasang kamera trap,” tuturnya.
Sebelumnya, seekor harimau sumatera ditemukan dalam kondisi terjerat di kebun warga di Jorong Lima Sumpadang Baru, Nagari Padang Mantinggi, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, pada Kamis (21/5/2026).
Kepala Resort Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pasaman, Edi Susilo, mengatakan harimau itu pertama kali ditemukan oleh Juliati (38) saat pergi ke kebunnya sekitar pukul 08.00 WIB.
“Setelah mendapatkan laporan, kami langsung melakukan evakuasi. Harimau ini terkena jerat babi yang dipasang Juliati untuk melindungi kebunnya,” ujarnya kepada Sumbarkita.
Ia menyebut, evakuasi melibatkan dokter hewan dan tim Conservation Officer Protection (COP). Proses evakuasi dilakukan dengan pembiusan sebelum satwa tersebut dipindahkan menggunakan tandu ke kandang transit.
“Harimau berjenis kelamin betina dengan usia sekitar 9 sampai 11 bulan, terjerat oleh 5 jerat babi yang terbuat dari kawat ban. Harimau itu mengalami luka di bagian leher dan kaki depan,” tuturnya.
Ia melanjutkan, harimau itu dievakuasi ke Tempat Transit Sementara Padang untuk menjalani observasi lebih lanjut hingga kondisinya membaik.
















