Kabarminang — Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) meluncurkan pembelajaran berbasis industri atau Teaching Factory (TEFA) dengan branding Kopi Payuang, pada Rabu (22/4/2026).
Direktur PPNP, John Nefri, menilai Program Revitalisasi Perguruan Tinggi Vokasi 2025 Kemendiktisaintek (PRPTNV) yang diketuai Neni Trimedona beserta tim telah berkontribusi dalam pengembangan program hingga melahirkan Kopi Payuang dengan berbagai produk olahan dan turunannya.
Ia menjelaskan, TEFA Kopi Payuang yang saat ini diketuai Tety Desrita Handayani diharapkan menjadi Teaching Factory unggulan berbasis riset yang mengintegrasikan pembelajaran, penelitian terapan, dan inovasi hilirisasi kopi.
“Program ini ditujukan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten serta produk kopi yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Hilirisasi kopi dalam program ini mencakup pengolahan biji kopi mentah (green bean) menjadi produk bernilai tambah seperti kopi bubuk, kopi instan, ekstrak kopi, hingga kopi dengan antioksidan tinggi dan decaffeinated coffee (kopi tanpa kafein). Turunan lainnya meliputi roasted bean, espresso, cappuccino, dan latte.
“Bagi banyak orang kopi adalah bahasa universal untuk memulai percakapan, namun bagi PPNP Kopi Payuang adalah bahasa kami untuk menunjukkan bukti dan jati diri atas kerja keras, riset, dan dedikasi terhadap potensi lokal,” ujar John Nefri.
Ia berharap Kopi Payuang dapat menjadi payung bagi petani kopi lokal serta ruang pertemuan inovasi teknologi pertanian dengan kearifan petani.
“Semoga Kopi Payuang mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional,” katanya.
Lebih lanjut, TEFA tidak hanya menjadi unit produksi, tetapi juga laboratorium hidup (living laboratory) yang menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Mahasiswa, dosen, serta mitra UMKM dilibatkan dalam satu ekosistem yang saling mendukung untuk menciptakan inovasi berkelanjutan.
“Kita berharap Kopi Payuang menjadi sarana pembelajaran dan pengabdian bagi mahasiswa dan civitas akademika, yang menghubungkan ilmu dengan praktik nyata untuk memberdayakan petani dan membangun kopi lokal yang berkelanjutan,” katanya.
















